Selamat Datang di Blog Swapala - Kalijaga

Swapala Kalijaga merupakan kelompok pencinta alam (PA) yang berbasis di SMA Negeri 1 demak.. Merupakan salah satu dari bagian kegiatan ekstra kurikuler pilihan bagi siswa SMA Negeri 1 demak. Kelompok yang berdiri pada tanggal 09 September 1999 ini kini mulai berkembang menjadi kelompok yang tidak hanya berkegiatan di bidang petualangan saja..

Dasar-dasar Mountaineering

Mountaineering berasal dari kata “mountain” yang berarti gunung. Mountaineering adalah kegiatan mendaki gunung yang terdiri dari tiga tahap kegiatan, yaitu : Hill Walking. Merupakan perjalanan pendakian bukit-bukit yang landai, tidak mempergunakan peralatan dan teknis pendakian

Tehnik Dasar Navigasi Darat

Menurut penjelasan pada “Diktat Badan Diklat Wanadri”, navigasi darat adalah penentuan posisi dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya maupun pada peta. Berkaitan dengan pengertian tersebut, pemahaman tentang kompas dan peta serta cara penggunaannya mutlak harus dikuasai.

Tehnik Hidup di Alam Bebas

Untuk dapat menikmati kehidupan alam bebas yang memang kadang-kadang penuh dengan resiko, tidak ada jalan lain selain memahami karakteristik alam tersebut. Gejolak-gejolak yang di timbulkan oleh alam memerlukan suatu teknik untuk mengatasinya.

Mendaki Secara Tim Atau Solo?

Kegiatan pendakian gunung sejatinya adalah sebuah kegiatan tim atau bersama. Hal itu dikarenakan kita harus memperhitungkan segala aspek resiko yang mengikuti kegiatan pendakian gunung ini. Akan tetapi tidak sedikit pula yang melakukan kegiatan pendakian gunung ini secara individu atau solo.

25.1.10

Abrasi dan Rob di Kawasan Pesisir Kab. Demak Semakin Memprihatinkan

Peningkatan pendapatan oleh masyarakat seringkali tidak memperhitungkan akibat yang ditimbulkan, terutama dampaknya terhadap ekologis, yang secara simultan berdampak terhadap sosial ekonomi secara menyeluruh. Kemajuan yang pesat bidang teknologi memicu masyarakat turut serta memacu meningkatkan pendapatannya dengan berbagai cara dengan melibatkan keseluruhan aspek kehidupan di lingkungannya.

Kondisi saat ini di areal pesisir dan pertambakan telah terkikis (abrasi pantai) dan rob yang lebih dalam ke daratan. Tambak-tambak udang yang terkikis menjadi hilang dan berubah kondisinya menjadi laut dan akibat pemanasan global menyebabkan air masuk lebih dalam. Hilangnya tambak akibat terkikis, menghilangkan pendapatan sebagian petani tambak yang dahulunya termasuk golongan petani ‘kaya” menjadi tidak “kaya”. Kondisi ini akan mengubah perilaku petambak yang tadinya sebagai “juragan” berubah menjadi “bukan juragan”.

Ekstensifikasi ke arah pantai menyebabkan kawasan mengrove sepanjang pinggir pantai sebagai penahan gelombang dan angin serta aliran air laut hilang yang menimbulkan abrasi dan rob (banjir air laut ke arah daratan) yang lebih cepat ke arah daratan. Akibatnya sebagian tambak sepanjang pinggir pantai hilang, salinitas tambak meningkat, tegalan dan sawah menjadi salin serta hilangnya sebagian pemukiman. Produktivitas lahan menurun dan berdampak pada penurunan pendapatan dan bahkan hilangnya pendapatan yang menyebabkan kesejahteraan menurun. Perubahan kesejahteraan yang lebih baik mengakibatkan perubahan perilaku masyarakat ke arah konsumtif, pemikiran yang lebih maju dan merubah perilaku sosial secara menyeluruh. Namun sebaliknya kondisi saat ini, kesejahteraan menurun dan yang terjadi adalah munculnya kemiskinan baru. Daya serap tenaga kerja menurun dan kesejahteraan masyarakat kawasan pesisir yang terimbas ikut menurun serta dimungkinkan merubah perilaku masyarakat kawasan pesisir.

Sebanyak 26 desa di pesisir Kabupaten Demak terendam rob dalam dua dasa warsa terakhir beberapa diantarany seperti Sayung, Karangtengah dan Wedung. Salah satu desa, yaitu Senik, yang dihuni sekitar 1.200 keluarga telah hilang ditelan banjir rob dan warganya terpaksa direlokasi di Desa Gemulak sejak tahun 2007. Bahkan kini banjir rob juga masih menggenangi desa-desa di tiga kecamatan tersebut hingga ketinggian mencapai 1,5 meter serta 449 keluarga menunggu untuk direlokasi.Pada saat sama, 1.710 hektar tambak milik warga pun hilang terabrasi. Akibat bencana alam nasional itu pun disebutkan terjadi penurunan permukaan tanah hingga 12 sentimeter per tahun. Bahkan jika tidak ada penanganan serius terhadap rob dan abrasi yang semakin meluas setiap tahunnya tersebut hingga 50 tahun ke depan, pesisir Demak dipastikan tenggelam. Jalur pantura pun diprediksikan terputus pula. Global warming telah memperparah bencana rob dan abrassi di pesisir Kabupaten Demak. Jika pada era 80-an garis pantai Demak tercatat hanya sekitar 34,1 kilometer, kini setelah terabrasi semakin memanjang hingga 57,58 kilometer.

Upaya penanggulangan pasang laut dan abrasi telah dilakukan baik dengan biaya APBD maupun APBN. Bahkan warga juga telah mendapatkan bantuan bibit mangrove dan pengurukan sekolah dari LSM peduli lingkungan asal Jepang. ”Namun penanganan rob dan abrasi tersebut hanya bersifat parsial. Sehingga luasan area yang terkena rob dan abrasi meluas hingga 200 persen lebih dalam dua puluh tahun. Bahkan 268 KK mesti dipindahkan karena pemukiman mereka tak lagi layak huni.

Untuk menangani bencana rob dan abrasi setidaknya dibutuhkan biaya Rp 77 miliar lebih. Antara lain untuk pembuatan break water atau pemecah gelombang di beberapa titik di sepanjang garis pantai Demak, di samping pula mengintensifkan penanaman mangrove dan melestarikan hutan bakau yang masih tersisa. Hanya saja, dana tersebut tak mungkin mampu ditanggung sepenuhnya oleh APBD Pemkab Demak. Dibutuhkan pula kepedulian pemerintah pusat serta lembaga-lembaga pecinta lingkungan serta masyarakat, agar global warming tak semakin memperparah lingkungan pantai.

21.1.10

PIDATO ANAK 12 TH YANG MEMBUNGKAM PARA PEMIMPIN DUNIA DI PBB (Tentang Lingkungan Hidup)

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki, seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.
Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.
Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.
Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker.
Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa
anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.
Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang.
Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: ” Aku berharap aku
kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang ” .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk
berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini – kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, ” Semuanya akan baik-baik saja , ‘kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.
Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
***********
Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.

Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:

” Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju
berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato.
Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya … tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun “

———— ——— ——— ——— ——— ———
——— ——— ——
*Tolong sebarkan tulisan ini ke semua orang yang anda kenal, bukan untuk mendapatkan nasib baik atau kesialan kalau tidak mengirimkan, tapi mari kita bersama-sama membuka mata semua orang di dunia bahwa bumi sekarang sedang dalam keadaan sekarat dan kitalah manusia yang membuatnya seperti ini yang harus bertindak untuk mencegah kehancuran dunia.
*(Copyright from: Viski Tiarizki)

18.1.10

Diklatsar dan Pelantikan angkatan XI Swapala-Kalijaga

Dengan mengucap Rasa Syukur yang sebesar-besarnya ke hdirat Tuhan YME, akhirnya terlaksana juga Diklatsar dan Pelantikan anggota baru angkatan XI Swapala-Kalijaga SMAN 1 Demak. Semoga para anggota baru yang dilantik tersebut dapat melanjutkan apa yanga telah diperjuangkan para seniornya. Sebuah harapan yang sangat besar di berikan kepada para anggota baru Swapala-Kalijaga angkatan XI. Semoga dapat menjadi anggota yang berkualitas, berdedikasi tinggi dan loyal terhadap organisasi. Serta mampu mengemban semua tugas sebagai seorang pecinta alam, sesuai dengan apa yang telah mereka terima dalam pendidikan dan latihan dasar..
Diklatsar dan pelantikan anggota Swapala-Kalijaga angkatan XI dilaksanakan tanggal 26-29 Desember 2009 yang lalu di Kawasan Gunung Ungaran. Selama empat hari para calon anggota yang berjumlah 22 orang tersebut di gembleng habis-habisan dari segi mental, ketajaman berfikir, ketajaman rasa, dan fisiknya untuk mempersiapkan diri mereka untuk menjadi anggota Swapala-Kalijaga dan menjadi seorang pecinta alam sepenuhnya. Selama 4 hari segala ideologi tentang kepecinta-alaman mereka pelajari dan mereka terapkan dalam diri mereke dengan harapan bahwa ideologi kepecinta-alaman tersebut akan menjadi prinsip hidup dan jalan hidup mereka. Semoga apa yang telah dipelajari benar-benar dapat membuat para anggota baru tersebut menjadi orang yang diharapkan semua pihak…
Selamat atas dilantiknya para anggota baru Swapala-Kalijaga angkatan XI, Selamat datang di keluarga Swapala-Kalijaga, dan selamat datang di dunia Pecinta Alam…

Daftar nama Anggota baru Swapala Kalijaga angkatan XI :
1. Habibul Munna, nama rimba "minthi"
2. Riska Aulia, nama rimba "laler"
3. Kendali Wongso, nama rimba "kemin"
4. M. Ainur Rofiq, nama rimba "kampret"
5. Anna Ma'rifat, nama rimba "coro"
6. Luthfia Hanum, nama rimba "cemani"
7. Agus Wibowo, nama rimba "bajing"
8. Nur Azizah, nama rimba "tawon"
9. Siti Rokhmatun, nama rimba "monggo"
10. Ulil Albab, nama rimba "tumo"
11. Shona Chayy, nama rimba "kenthus"
12. Annis Kurniawati, nama rimba "yuyu"
13. Anriko Fahri, nama rimba "kuthuk"
14. M. Barhan Fazabih, nama rimba "gembluk"
15. Hanum Mardiana, nama rimba "cemeng"
16. Nur Rohman, nama rimba "kuwuk"
17. Taufan Khariri, nama rimba "jaran"
18. Faizal Armadha, nama rimba "kadal"
19. Dwi Bintang, nama rimba "kodok"
20. Nuzulul Qur'anis, nama rimba "jangkrik"
21. Yosua Eren, nama rimba "wedhus"
22. Wahyu Saraswati, nama rimba "singgat"

beberapa hasil dokumentasi :

1. para peserta


2. para dedengkot


3. mendirikan bivak


4. rapelling


5. navigasi darat


6. upacara pelantikan

19.9.09

1430 H

KELUARGA BESAR SWAPALA KALIJAGA
MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1430 H
MOHON MAAF SEGALA KESALAHAN YANG DISENGAJA MAUPUN YANG TIDAK DI SENGAJA



10.9.09

090909 - 10 Tahun Swapala Kalijaga

090909... tepat 10 tahun yang lalu Swapala Kalijaga didirikan. Sebuah perjuangan yang sungguh berat hingga pada akhirnya Swapala-Kalijaga berhasil didirikan. Akan tetapi perjuangan tersebut tidah berakhir saat itu. justru perjuangan yang sesungguhnya baru akan di mulai. Mempertahankan memang jauh lebih berat dari pada mendirikan. Berbagai aral dan rintangan senantiasa menghadang. Baik yang berasal dari luar maupun dari dalam tubuh Swapala-Kalijaga sendiri. Dengan semangat perjuangan yang besar dan dengan semangat persaudaraan dan kekeluargaan pula, segala aral yang melintang sanggup dihadapi dan dilewati hingga sampai pada usia yang ke-10 tahun ini. Dan dari segala perjuangan tersebut Swapala-Kalijag berhasil pula meraih berbagai prestasi, baik yang bersifat kejuaraan maupun non-kejuaraan. Beberapa kali Swapala Kalijaga mampu meraih juara pada perlombaan pecinta alam seperti lomba lintas alam.

selain itu Swapala Kalijaga merupakan pionir kelompok yang mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan. Swapala Kalijaga merupakan kelompok pecinta alam tingkat pelajar yang pertama dan hingga saat ini satu-satunya yang telah melakukan kegiatan penanaman seribu pohon mangroove di kawasan bencana rob di daerah sayung, semoga hal ini dapat menjadi penyemangat bagi anggota Swapala Kalijaga generasi berikutnya untuk melanjutkan apa yang telah dilakukan pendahulunya dan dapat menjadi penyemangat bagi kelompok yang lain untuk dapat lebih memperhatikan kelestarian lingkungan. Semoga Swapala Kalijaga tetap jaya dan tetap menjadi kelompok pecinta alam unggulan, baik di lingkup SMA Negeri 1 Demak, maupun di lingkup masyarakat luas. Semoga Swapala Kalijaga dapat terus bertahan untuk berjuang menjaga kelestarian alam selamanya. Selamat Ulang Tahun Swapala Kalijaga, semoga tetap abadi dan jaya selamanya...

1.8.09

Aturan dan Etika Saat Mendaki Gunung

Aturan dan Etika Saat Mendaki Gunung
sumber : Komunitas pendaki

Seperti olahraga lain, mendaki gunung juga mengikuti etika dan aturan yang berlaku. Bagi setiap pendaki hal ini tentunya harus dipatuhi walaupun pada kenyataannya seringkali terlupakan. Berikut adalah beberapa aturan dasar dan etika yang perlu diingat sehingga akan menyenangkan setiap perjalanan dan menghidari siapapun untuk merusak lingkungan.
Sebelum mendaki gunung :

* Pastikan kita dalam kondisi yang sehat dan prima. Mendaki gunung memerlukan kesegaran dalam fisik dan pikiran untuk menhindari resiko terjadinya cedera dan kecelakaan. Latihan teratur akan sangat membantu dalam persiapan sebuah perjalanan.
* Mendaki gunung tidak hanya membutuhkan ketrampilan, tetapi juga pakaian dan peralatan khusus. Pastikan bahwa kita memiliki semua peralatan yang diperlukan dalam perjalanan serta membawa makanan dan minuman yang cukup untuk perjalanan.
* Mendaki gunung membutuhkan kerjasama yang baik dalam tim dan lebih dari sekedar kerjasama tim olahraga biasanya. Hindari mendaki gunung sendiri, karena ada kalanya kita tidak mampu menyelesaikan permasalahan dengan sendiri jika ada yang diperlukan. Sebagai contoh untuk melakukan belaying pada sebuah pemanjatan tebing yang nyaris bisa dilakukan sendiri.
* Tentang daerah yang menjadi tujuan, sebaiknya kita melakukan penelitian dan berdiskusi bersama orang-orang yang telah melakukannya terlebih dahulu. Kita bisa saja bergabung dengan tim ekspedisi lain. Sebaiknya kita memiliki peta daerah yang dituju dan mampu membaca peta itu sendiri.
* Tinggalkan pesan kepada orang terdekat berapa lama kita melakukan perjalanan, hal ini akan membantu mereka menemukan kita kalau saja kita tersesat ataupun mengalami musibah.


Selama mendaki gunung :

* Melestarikan dan menjaga alam dan lingkungan yang terlewati. Jangan meninggalkan apapun di gunung selain jejak kaki dan dokumentasi.
* Gunakan berbagai produk ramah lingkungan. Jangan merusak sumber atau aliran air.
* Mematuhi pimpinan pendakian, ikuti perintah dan jangan berpisah dari tim serta membangun kerjasama yang baik.
* Jangan mendaki melebihi dari kemampuan (memaksakan diri). Gunakan pertimbangan kita yang terbaik. Banyak pendaki telah melewati kesempatan hidupnya hanya karena memaksalan diri dimana peluang menghadapi kondisi alam dan cuaca demikian tidak mungkin terlewati.


Dengan mengikuti aturan dasar dan etika di atas, kita tidak hanya akan memberikan kesempatan kepada alam sekitar tetap alami namun juga memastikan bahwa kita memiliki kesempatan hidup di masa mendatang dengan lebih baik yang akhirnya anda sendirilah yang menjadi pemenang dalam kegiatan ini.

sumber tulisan : http://pendaki.org/web/index.php/info/mendaki-gunung/memulai-langkah-awal/aturan-dan-etika

Merencanakan Perjalanan

sumber : Komunitas Pendaki

Merencanakan perjalanan pendakian seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan karena akan membuat sebuah perjalanan pendakian berjalan dengan baik. Gunung tetap menyimpan potensi membahayakan dibalik semua keindahan dan tantangannya.
Berikut adalah beberapa panduan untuk mempersiapkan perjalanan dengan baik :

* Mengetahui dengan baik daerah yang dituju. Beberapa orang sering mencoba masuk sedikit kedalam atau melakukan survei terhadap daerah yang akan dilalui tetapi kebanyakan orang biasanya meminta saran dan nasehat dari orang-orang yang pernah mendahului mendaki.
* Mengunakan pemandu pada daerah yang tidak dikenal adalah saran bijaksana. Setidaknya perjalanan kita akan lebih banyak mendapatkan kemudahan dan biasanya pemandu juga akan memberikan edukasi tentang daerah yang dilalui.
* Amati cuaca. Sepanjang tahun cuaca tidaklah selalu cerah. Ada musim-musim terbaik untuk pendakian di setiap daerah tujuan. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan cuaca tiba-tiba yang sering terjadi. Bahkan waktu satu menit dapat membuat cuaca yang cerah tiba-tiba menjadi gelap atau terjadinya badai gunung.
* Bawalah semua perlengkapan yang diperlukan, termasuk didalamnya ; makanan, air minum, jaket, senter, perlengkapan kesehatan, pakaian, dll. Kita harus menyiapkan segalanya dengan baik karena seperti banyak pendaki berkata "Keberhasilan sebuah pendakian tidak terlepas dari bagaimana cara kita secara bijaksana mempersiapkan dan menyikapi kondisi alam yang akan terjadi"
* Gunakan tas atau bahan pelindung anti air. Biasanya kantong plastik digunakan untuk mengepak barang-barang yang dibawa sebelum dimasukan ke dalam ransel. Dengan begitu, kita telah melakukan antisipasi ketika hujan tiba-tiba turun. Hindari perbekalan anda menjadi basah karena air, terutama beberapa peralatan elektronik seperti ponsel dan kamera.
* Gunakan dan pilih pakaian yang dipakai secara benar. Benar adanya untuk mengantisipasi udara dingin pada ketinggian menggunakan bahan yang tebal dan hangat, namun perlu diperhatikan juga keleluasaan kita bergerak setelah menggunakannya.
* Persiapkan fisik dan stamina secara baik sebelum melakukan perjalanan pendakian. Pemanasan yang cukup akan menhindari cedera kram atau kejang otot tiba-tiba. Biasanya para pendaki melakukan persiapan selama 2 bulan sebelum berlangsungnya perjalanan pendakian secara teratur.
* Gunakan Jasa pembawa barang (Porter / sherpa). Tindakan ini bukanlah pilihan yang tidak baik. Dengan semakin ringan beban yang kita bawa dan membaginya secara bersama, maka akan membuat kita lebih leluasa melakukan kegiatan.
* Persiapkan mental kita. Kita harus selalu berpikir positif selama perjalanan. Kita harus mampu menjaga mental untuk mencapai tujuan namun juga jangan sampai kita terlalu percaya diri secara berlebihan. Percaya 100% bisa mencapai tujuan biasanya akan membuat perjalanan pendakian kita berhasil dengan baik


Beberapa pendaki gunung mengatakan bahwa tidak mungkin setiap orang dapat mencapai tujuan seperti beberapa pendaki yang telah berhasil mencapai tujuan sebelumnya. Namun bukan berarti kita tidak mampu melakukannya, jika kita bekerja keras untuk mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental serta melengkapi semua kebutuhan dengan benar ketika merencanakan sebuah perjalanan maka bukan hal yang mustahil kita juga akan mengikuti jejak mereka.

Dengan persiapan yang baik maka kita akan mendapatkan kesenangan dalam mendaki gunung.

sumber tulisan : http://pendaki.org/web/index.php/info/mendaki-gunung/memulai-langkah-awal/merencanakan-perjalanan

22.7.09

Ekspedisi Alumni Swapala di Merapi, 19-20 Juli 2009

Rencana Pendakian yang hampir gagal

Persiapan dan perjalanan menuju Merapi
Perencanaan pendakian yang sudah di bahas sejak beberapa minggu sebelumnya hampir saja gagal. karena kurangnya koordinasi tim dan perubahan jadwal yang tidak jelas. Akan tetapi dari berbagai kandala tersebut, dengan segala persiapan akhirnya terlaksana juga pendakian ini.
Perjalanan disepakati dengan mengendarai sepeda motor. perhitungan kami, jika mengendarai sepeda motor maka membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan dari Demak menuju ke Selo (basecamp merapi) melalui jalur boyolali. Tapi pada koordinasi terakhir, disepakati lewat jalur ketep, otomatis membutuhkan waktu yang lebih, karena pasti nantinya akan berhenti dulu di ketep pass untuk menikmati pemandangan merapi dari sana.
Rencana Perjalanan start dari demak jam 09.00 WIB. tetapi molor jadi berangkat jam 11.30 WIB. Perjalanan menuju ke selo cukup lancar dengan malalui tempat-tempat yang cukup indah pemandangannya dan beberapa kali berhenti untuk istirahat.
Jam 05.30 WIB akhirnya kami sampai di selo. sebelum menuju ke basecamp untuk istirahat sejenak kami harus mendaftar dulu di posko pendataan pendaki dan membayar retribusi sebesar Rp. 2.500/orang.
Setelah cukup beristirahat dan makan malam di basecamp, jam 21.00 WIB kami malakukan persiapan untuk tracking menuju ke puncak merapi. mempersiapkan perlengkapan, logistik, koordinasi tim, dan pemanasan otot supaya tidak terjadi hal yang buruk. Setelah dirasa cukup persiapan, jam 21.30 WIB kami mulai start untuk tracking. target malam ini adalah pasar bubrah.

Tracking menuju Pasar bubrah
Perjalanan diawali dengan melalui jalur aspal menuju ke joglo/new selo dengan perkiraan jarak sekitar 500m. dari new selo perjalanan dilanjutkan dengan melalui jalan setapak yang sangat berdebu melalui lahan pertanian penduduk yang sebagian besar ditanami tembakau (karena sedang musim kemarau, maka sebagian besar penduduk menanam tembakau di kebun meraka). setelah berjalan sekitar 1 jam kami mulai memasuki hutan, dan tak lama kemudian sampai di pos 1. Gambara jalur dari new selo menuju ke pos 1 adalah jalur setapak dengan track yang cukup landai, jalur tanah dengan banyak debu.
di pos 1 kami istirahat sebentar, sekitar 5 menit untuk mengatur nafas lalu kemudian elanjutkan perjalanan. dari pos 1 menuju pos 2 jalur tidak banyak perbedaan. masih dengan jalur tanah yang berdebu. Lepas dari pos 2 kami mulai menemui jalur berbatu. track di jalur ini lebih curam. membutuhkan tenaga ekstra untuk bisa melewatinya. tapi kami masih sangat menikmati perjalanan dengan beberapa candaan di sela-sela rasa letih yang mulai melanda.
Sekitar 3 jam perjalanan dari basecamp, perjalanan terasa makin berat, karena rasa letih, kantuk, dan lapar yang semakin menguasai fisik kami.tapi dengan semangat yang tetap dijaga bersama, akhirnya setelah berjalan sekitar 4 jam kami mulai mendekati pasar bubrah. semangat yang sebelumnya sudah hampir habis, akhirnya bangkit kembali. harapan kami mulai tumbuh, karena setelah sampai di pasar bubrah kami mempunyai kesempatan untuk istirahat melepas rasa letih yang telah melanda.Sekitar jam 02.00 WIB kami sampai di pasar bubrah. kami langsung mendirikan tenda untuk istirahat. dan tak lupa sebelum istirahat kami mengisi perut dengan makanan yang bergizi untuk mengembalikan stamina tubuh.
Pagi harinya sekitar jam 05.30 warna merah di ufuk timur mulai terlihat. mengundang hasrat untuk bangun dan menikmati matahari terbit dari pasar bubrah. Pemandangan yang sangat indah, menyambut terbitnya sang hari di pasar bubrah dengan suhu 10 derajat celcius...

Tracking menuju puncak garuda
Sekitar jam 07.30 WIB kami mulai melakukan persiapan untuk tracking menuju ke puncak garuda. Mempersiapkan logistik, P3K, dan beberapa perlengkapan yang dibutuhkan untuk menuju di puncak garuda. dan tak lupa mempersiapkan fisik dan stamina dengan sarapan makanan yang bergizi.Jam 08.00 WIB kami mulai untuk tracking menuju ke puncak garuda. beberapa perlengkapan yang tidak dibutuhkan kami tinggalkan di pasar bubrah supaya perjalanan jadi lebih ringan. Jalur menuju ke puncak garuda sangat terjal, dengan jalur berbatu yang sangat curam, beberapa kali sempat terpeleset karena batuan kerikil yang dilewati sempat longsor saat ditapaki. Dengan perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya setelah berjalan sekitar 45 menit kami sampai di puncak garuda. menikmati suasana di puncak dengan berfoto bersama dan menikmati pemandangan sekitar berupa kawah mati, belerang yang masih mengeluarkan asap, melihat pemandangan gunung merbabu.Dengan berbagai kendala, dan tak lupa dengan semangat yang membara akhirnya perjalanan menuju ke puncak merapi berakhir dengan kesuksesan untuk seluruh tim.. Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat berupa alam raya yang sungguh indah dan kami dapat menikmatinya. terimakasih untuk seluruh tim atas kerjasama yang sangat solid, hal itu lah yang mendorong kita semua untuk mencapai sukses ini..
Tim Ekspedisi : Alumni Swapala-Kalijaga

30.6.09

Mengelola Sampah, Mengelola Gaya Hidup

Mengelola Sampah, Mengelola Gaya Hidup

Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyrakat.

Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3). [Bapedalda, 2000]. Selain Jakarta, jumlah sampah yang cukup besar terjadi di Medan dan Bandung. Kota metropolitan lebih banyak menghasilkan sampah dibandingkan dengan kota sedang atau kecil.

Jenis Sampah

Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2 yaitu sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sapah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dll. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Sebaliknya dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, dll. Sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami.

Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Oleh karena itu pengelolaan sampah yang terdesentralisisasi sangat membantu dalam meminimasi sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pada prinsipnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Selama ini pengleolaan persampahan, terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sapah bersifat terpusat. Misanya saja, seluruh sampah dari kota Jakarta harus dibuag di Tempat Pembuangan Akhir di daerah Bantar Gebang Bekasi. Dapat dibayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk ini. Belum lagi, sampah yang dibuang masih tercampur antara sampah basah dan sampah kering. Padahal, dengan mengelola sampah besar di tingkat lingkungan terkecil, seperti RT atau RW, dengan membuatnya menjadi kompos maka paling tidak volume sampah dapat diturunkan/dikurangi.

Alternatif Pengelolaan Sampah

Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai, karena landfill tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Malahan alternatif-alternatif tersebut harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali ke ekonomi masyarakat atau ke alam, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap sumberdaya alam. Untuk mencapai hal tersebut, ada tiga asumsi dalam pengelolaan sampah yang harus diganti dengan tiga prinsip–prinsip baru. Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan prioritas utama.

Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada saat ini. Dan industri-industri harus mendesain ulang produk-produk mereka untuk memudahkan proses daur-ulang produk tersebut. Prinsip ini berlaku untuk semua jenis dan alur sampah.

Pembuangan sampah yang tercampur merusak dan mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi/ mencemari bahan-bahan yang mungkin masih bisa di daur-ulang dan racun dapat menghancurkan kegunaan dari keduanya. Sebagai tambahan, suatu porsi peningkatan alur limbah yang berasal dari produk-produk sintetis dan produk-produk yang tidak dirancang untuk mudah didaur-ulang; perlu dirancang ulang agar sesuai dengan sistem daur-ulang atau tahapan penghapusan penggunaan.

Program-program sampah kota harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidak mungkin dibuat sama dengan kota lainnya. Terutama program-program di negara-negara berkembang seharusnya tidak begitu saja mengikuti pola program yang telah berhasil dilakukan di negara-negara maju, mengingat perbedaan kondisi-kondisi fisik, ekonomi, hukum dan budaya. Khususnya sektor informal (tukang sampah atau pemulung) merupakan suatu komponen penting dalam sistem penanganan sampah yang ada saat ini, dan peningkatan kinerja mereka harus menjadi komponen utama dalam sistem penanganan sampah di negara berkembang. Salah satu contoh sukses adalah zabbaleen di Kairo, yang telah berhasil membuat suatu sistem pengumpulan dan daur-ulang sampah yang mampu mengubah/memanfaatkan 85 persen sampah yang terkumpul dan mempekerjakan 40,000 orang.

Secara umum, di negara Utara atau di negara Selatan, sistem untuk penanganan sampah organik merupakan komponen-komponen terpenting dari suatu sistem penanganan sampah kota. Sampah-sampah organik seharusnya dijadikan kompos, vermi-kompos (pengomposan dengan cacing) atau dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutirisi-nutrisi yang ada ke tanah. Hal ini menjamin bahwa bahan-bahan yang masih bisa didaur-ulang tidak terkontaminasi, yang juga merupakan kunci ekonomis dari suatu alternatif pemanfaatan sampah. Daur-ulang sampah menciptakan lebih banyak pekerjaan per ton sampah dibandingkan dengan kegiatan lain, dan menghasilkan suatu aliran material yang dapat mensuplai industri.

Tangguang Jawab Produsen dalam Pengelolaan Sampah

Hambatan terbesar daur-ulang, bagaimanapun, adalah kebanyakan produk tidak dirancang untuk dapat didaur-ulang jika sudah tidak terpakai lagi. Hal ini karena selama ini para pengusaha hanya tidak mendapat insentif ekonomi yang menarik untuk melakukannya. Perluasan Tanggungjawab Produsen (Extended Producer Responsibility - EPR) adalah suatu pendekatan kebijakan yang meminta produsen menggunakan kembali produk-produk dan kemasannya. Kebijakan ini memberikan insentif kepada mereka untuk mendisain ulang produk mereka agar memungkinkan untuk didaur-ulang, tanpa material-material yang berbahaya dan beracun. Namun demikian EPR tidak selalu dapat dilaksanakan atau dipraktekkan, mungkin baru sesuai untuk kasus pelarangan terhadap material-material yang berbahaya dan beracun dan material serta produk yang bermasalah.

Di satu sisi, penerapan larangan penggunaan produk dan EPR untuk memaksa industri merancang ulang ulang, dan pemilahan di sumber, komposting, dan daur-ulang di sisi lain, merupakan sistem-sistem alternatif yang mampu menggantikan fungsi-fungsi landfill atau insinerator. Banyak komunitas yang telah mampu mengurangi 50% penggunaan landfill atau insinerator dan bahkan lebih, dan malah beberapa sudah mulai mengubah pandangan mereka untuk menerapkan “Zero Waste” atau “Bebas Sampah”.

Sampah Bahan Berbahaya Beracun (B3)

Sampah atau limbah dari alat-alat pemeliharaan kesehatan merupakan suatu faktor penting dari sejumlah sampah yang dihasilkan, beberapa diantaranya mahal biaya penanganannya. Namun demikian tidak semua sampah medis berpotensi menular dan berbahaya. Sejumlah sampah yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas medis hampir serupa dengan sampah domestik atau sampah kota pada umumnya. Pemilahan sampah di sumber merupakan hal yang paling tepat dilakukan agar potensi penularan penyakit dan berbahaya dari sampah yang umum.

Sampah yang secara potensial menularkan penyakit memerlukan penanganan dan pembuangan, dan beberapa teknologi non-insinerator mampu mendisinfeksi sampah medis ini. Teknologi-teknologi ini biasanya lebih murah, secara teknis tidak rumit dan rendah pencemarannya bila dibandingkan dengan insinerator.

Banyak jenis sampah yang secara kimia berbahaya, termasuk obat-obatan, yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas kesehatan. Sampah-sampah tersebut tidak sesuai diinsinerasi. Beberapa, seperti merkuri, harus dihilangkan dengan cara merubah pembelian bahan-bahan; bahan lainnya dapat didaur-ulang; selebihnya harus dikumpulkan dengan hati-hati dan dikembalikan ke pabriknya. Studi kasus menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip ini dapat diterapkan secara luas di berbagai tempat, seperti di sebuah klinik bersalin kecil di India dan rumah sakit umum besar di Amerika.

Sampah hasil proses industri biasanya tidak terlalu banyak variasinya seperti sampah domestik atau medis, tetapi kebanyakan merupakan sampah yang berbahaya secara kimia.

Produksi Bersih dan Prinsip 4R

Produksi Bersih (Clean Production) merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis. Prinsip-prinsip Produksi Bersih adalah:

Prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan dalam keseharian misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R yaitu:

* Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
* Reuse (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
* Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
* Replace ( Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekalai dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, Misalnya, ganti kantong keresek kita dnegan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidka bisa didegradasi secara alami.

22.6.09

Masa Depan Tanpa Nuklir Untuk Indonesia

Masa Depan Tanpa Nuklir Untuk Indonesia
sumber : Greenpeace

Jakarta, Indonesia — Setelah melakukan peluncuran komik di Jepara April lalu bersama Muria Institut dan kelompok masyarakat, Pada Minggu 21 Juni 2009 Greenpeace meluncurkan komik itu di gedung komunitas Salihara Jakarta selatan. Komik yang saat ini sudah dapat di lihat dalam bentuk cetak rencananya akan di distribusikan ke sekolah-sekolah di wilayah Jepara dan sekitarnya dimana PLTN akan dibangun.

Aksi teater yang di tampilkan oleh solar Generation menceritakan alur dari kisah Hidam dan Jaumai (pemeran utama di Komik Nucelar Meltdown - Pesan dari Kegelapan.

Tenaga nuklir telah disalah persepsikan sebagai solusi untuk mengatasi perubahan iklim. Industri nuklir saat ini sedang melakukan upaya putus asa, mencoba mencitrakan nuklir sebagai pilihan energi masa depan, kepada anak-anak muda melalui skema kehumasan global. Tetapi, anak muda Indonesia lebih pintar dari yang dikira oleh para pelaku industri nuklir, mereka faham bahwa tenaga nuklir itu berbahaya, mahal, teknologi terbelakang yang tak menawarkan apa pun sebagai solusi mengatasi perubahan iklim.

Greenpeace sendiri menyambut baik pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Magelang beberapa waktu lalu, bahwa dia tidak setuju pembangunan reaktor nuklir selama masih ada alternatif, serta pernyataan Perusahaan Listrik Negara (PLN) awal minggu ini, bahwa mereka tidak melihat tenaga nuklir sebagai pilihan salah satu dari sekian banyak sumber energi Indonesia di masa mendatang.

Indonesia mempunyai simpanan energi geothermal terbanyak di dunia, dan sudah punya rencana untuk mensuplai 5 gigawatt energi dari geothermal ini pada 2014. Greenpeace mendesak pemerintah untuk meningkatkan target energi terbarukan, seperti geothermal, angin, matahari, mikro hidro, sekaligus meningkatkan kualitas hukum dan peraturan, yang selama ini menjadi batu sandungan terbesar dalam investasi di bidang energi terbarukan.

Peningkatan besar energi terbarukan, penghentian penggunaan batubara, dan penghapusan rencana pembangunan reaktor nuklir, harus dikombinasikan dengan implementasi program efisiensi energi berskala besar. Ini satu-satunya solusi yang bisa membawa kita terhindar dari bencana iklim, dan memberikan masa depan yang kita inginkan bersama

Indonesia saat ini hanya memanfaatkan kurang dari 5% dari potensi energi terbarukan yang ada. Greenpeace menggaris bawahi kebutuhan akan kepemimpinan negara yang kuat untuk membuat peraturan akan penggunaan energi terbarukan secara massal. Sebagai perbandingan, China yang pada tahun 2005 mengimplementasikan Undang-Undang Promosi Energi Terbarukan, berhasil membawa negara dengan emisi gas rumah kaca terbesar di dunia itu menjadi negara yang paling maju dan cepat dalam mengembangkan tenaga angin, dan sangat membantu China menurunkan tingkat emisi dengan sangat cepat.

11.6.09

SANITASI SEBAGAI TANGGUNG JAWAB BERSAMA

SANITASI SEBAGAI TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Oleh Surya (alumni swapala angk. Perintis)

Persoalan penyediaan sanitasi yang baik bagi masyarakat sudah tidak
bisa ditunda. Sebab masalah sanitasi berkolerasi positif dengan
timbulnya berbagai penyakit semacam diare, ispa (infeksi saliran
pernafasan atas), demam berdarah, tuberculosis. Angka kematian dari
penyakit ini sungguh mencengangkan.
Di dunia, minimnya akses air bersih serta buruknya sanitasi dan
perilaku tidak sehat berkontribusi terhadap kematian 1,8 juta orang
per tahun karena diare. Sebanyak 90 persen angka kematian akibat diare
terjadi pada anak dibawah umur lima tahun (balita).
Untuk Indonesia, menurut Survei Demografi tahun 2003, sekitar 19
persen atau 100.000 anak balita meninggal karena diare.
Pada tahun 2006, tercatat 423 per 1000 anak balita terserang diare satu hingga
dua kali dalam setahun. Padahal, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO),
94 persen kasus diare dapat dicegah dengan meningkatkan akses air
bersih, sanitasi, perilaku higienis, dan pengolahan air minum skala
rumah tangga.
Hampir 80 persen rumah tangga di perkotaan menggunakan tangki septik
untuk menampung tinja manusia. Namun, penggunaan tangki septik
tersebut jauh dari syarat memenuhi standar kesehatan. Akibatnya
ratusan juta penduduk berada dibawah ancaman diare akibat bakteri E
coli yang mengontaminasi sumber air bersih. Data Departemen Kesehatan
menunjukkan, diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi dibawah lima
tahun atau balita di Indonesia setelah radang paru atau pneumonia.
Kualitas air minum buruk menyebabkan 300 kasus diare per 1.000
penduduk.
Sanitasi buruk dituding sebagai penyebab banyaknya kontaminasi bakteri
E coli dalam air bersih yang dikonsumsi masyarakat. Bakteri E coli
mengindikasikan adanya pencemaran tinja manusia. Kontaminasi terjadi
pada air tanah yang banyak disedot penduduk di perkotaan, dan sungai
yang menjadi sumber air baku di PDAM pun tercemar bakteri ini.
Sementara itu, masalah sanitasi belum dijadikan prioritas pembangunan
oleh para pengambil keputusan. Hal itu tampak dari alokasi anggaran
yang minim. Tak heran, sanitasi di Indonesia sampai sekarang masih
terhitung buruk. Sesungguhnya perwujudan tersedianya sanitasi yang
memadai beserta perilaku hidup sehat masyarakat merupakan
langkah-langkah preventif terhadap ancaman berbagai macam penyakit.

Langkah preventif ini ternyata lebih efektif menjauhkan dari
penderitaaan si sakit juga dari segi biaya yang dikeluarkan pihak
pemerintah untuk anggaran kesehatan. Daripada anggaran tersedot
membangun rumah sakit, penyediaan obat-obatan, penyediaan dokter dan
perawat, lebih tepat mengurangi angka timbulnya penyakit dengan
membangun sarana air bersih, tangki septik yang baik, dan gizi yang
mencukupi. Ini bukan berarti menampik perangkat kesehatan tersebut
melainkan mengubah cara berpikir kita mengenai makna sehat itu
sendiri.