Selamat Datang di Blog Swapala - Kalijaga

Swapala Kalijaga merupakan kelompok pencinta alam (PA) yang berbasis di SMA Negeri 1 demak.. Merupakan salah satu dari bagian kegiatan ekstra kurikuler pilihan bagi siswa SMA Negeri 1 demak. Kelompok yang berdiri pada tanggal 09 September 1999 ini kini mulai berkembang menjadi kelompok yang tidak hanya berkegiatan di bidang petualangan saja..

Dasar-dasar Mountaineering

Mountaineering berasal dari kata “mountain” yang berarti gunung. Mountaineering adalah kegiatan mendaki gunung yang terdiri dari tiga tahap kegiatan, yaitu : Hill Walking. Merupakan perjalanan pendakian bukit-bukit yang landai, tidak mempergunakan peralatan dan teknis pendakian

Tehnik Dasar Navigasi Darat

Menurut penjelasan pada “Diktat Badan Diklat Wanadri”, navigasi darat adalah penentuan posisi dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya maupun pada peta. Berkaitan dengan pengertian tersebut, pemahaman tentang kompas dan peta serta cara penggunaannya mutlak harus dikuasai.

Tehnik Hidup di Alam Bebas

Untuk dapat menikmati kehidupan alam bebas yang memang kadang-kadang penuh dengan resiko, tidak ada jalan lain selain memahami karakteristik alam tersebut. Gejolak-gejolak yang di timbulkan oleh alam memerlukan suatu teknik untuk mengatasinya.

Mendaki Secara Tim Atau Solo?

Kegiatan pendakian gunung sejatinya adalah sebuah kegiatan tim atau bersama. Hal itu dikarenakan kita harus memperhitungkan segala aspek resiko yang mengikuti kegiatan pendakian gunung ini. Akan tetapi tidak sedikit pula yang melakukan kegiatan pendakian gunung ini secara individu atau solo.

12.5.10

1100 Bibit Mangroove Untuk Masa Depan

Eksplorasi alam yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan menyebabkan kondisi lingkungan semakin memprihatinkan. Pemanasan global dan pengikisan tanah daerah pesisir kini telah mencapai taraf yang berbahaya. Dan yang lebih parah lagi kesadaran masyarakat mengenai kondisi tersebut masih sangat kurang. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi. Tuntutan hidup dan kondisi ekonomi merupakan penyabab utama kurangnya kesadaran masyarakat untuk memperhatikan kelestarian lingkungan. Kita hanya bisa mengeksplorasi dan mengambil kekayaan alam ini tanpa memperhatikan kerusakan yang ditimbulkan.

Swapala Kalijaga, sebagai kelompok Pecinta Alam dari SMAN 1 Demak yang notabene memiliki kepedulian terhadap lingkungan mencoba untuk menunjukkan hal tersebut melalui moment Hari Bumi 22 April. Swapala Kalijaga mencoba untuk menunjukkan kepedulian dan memancing kesadaran masyarakat tentang kondisi lingkungan dengan kegiatan berupa Penanaman 1100 Bibit Mangroove di Daerah Pesisir Kabupaten Demak. Meski kegiatan ini tergolong kecil, tapi dengan melakukan kegiatan ini Swapala Kalijaga Berusaha untuk tetap peduli dan semoga hal ini bisa menjadi pemacu semangat bagi semua pihak dan golongan untuk lebih peduli dan melakukan kegiatan serupa yang mungkin lebih besar. Kegiatan Penanaman 1100 Bibit Mangroove dilaksanakan pada hari minggu 24 April 2010 kemarin di lokasi rawan abrasi di Desa Sukorejo Kecamatan Bonang Kabutapen Demak. Kegiatan yang didukung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak ini berlangsung dengan lancar dan sukses. Seluruh bibit dapat ditanam di lokasi yang ditentukan. Dan dukungan dari masyarakat sekitar juga cukup baik. Semoga kegiatan ini dapat dilakukan secara berkelanjutan di waktu mendatang.




Pecinta Alam bukan sekedar naik turun gunung saja... Seharusnya kita sadar bahwa kita memiliki tugas yang lebih besar dari sekedar berpetualang... Kondisi alam dan lingkungan kita menunggu kepedulian kita untuk menjaga dan melestarikannya... Tetap maju Pecinta Alam Indonesia... Salam Lestari...

25.3.10

Dukung Earth Hour 2010

Earth Hour merupakan kampanye perubahan iklim global WWF yang menghimbau individu, pelaku bisnis, dan pemerintah untuk mematikan lampu selama 1 jam sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penanggulangan perubahan iklim.

Earth Hour awalnya merupakan kampanye kolaborasi antara WWF-Australia, Fairfax Media, dan Leo Burnett untuk kota Sydney dengan tujuan mengurangi gas rumah kaca sebanyak 5% pada tahun 2007. Maksud kampanye ini adalah agar aksi ini dapat diadopsi oleh warga masyarakat, bisnis serta pemerintah lain di seluruh dunia sehingga dapat menunjukkan bahwa aksi individu yang dilakukan secara global dapat mengubah bumi kita lebih baik. Pada tahun 2008, jumlah partisipan bertambah menjadi 50 juta orang di 35 negara.

Di tahun 2010, Earth Hour targetkan jangkau 1 milyar orang di 1000 kota di dunia. Acara ini sendiri tidak hanya akan menunjukkan secara nyata hubungan antara penggunaan energi dan perubahan iklim di setiap negara yang berpartisipasi, tetapi juga agar masyarakat luas dapat menanggulangi ancaman terbesar yang dihadapi oleh bumi.


Apa Tujuan Kampanye Earth Hour Indonesia?
1. Menjangkau sebanyak mungkin publik (individu, rumah tangga, dan pelaku bisnis) untuk memadamkan lampu mereka pada tanggal 27 Maret 2010, pk 20.30 – 21.30
2. Mengedukasi publik terkait dampak perubahan iklim dan apa yang bisa dilakukan dalam mengubah gaya hidup individu di kehidupan sehari-hari dalam mengurangi emisi karbon dioksida
3. Mendapat dukungan dan partisipasi korporasi untuk menyebarluaskan kampanye Earth Hour, baik secara internal maupun eksternal, dan berkomitmen memadamkan lampu mereka di tanggal dan jam yang dimaksud
4. Memberikan preseden untuk kelanjutan kampanye Earth Hour Indonesia pada tahun 2011 dan selanjutnya
5. Mengukur perubahan dan kontribusi kampanye Earth Hour terhadap emisi gas rumah kaca di Indonesia.

Siapa Target Sasaran Kampanye Earth Hour di Indonesia?
1. Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan Pemerintah Pusat memberikan pernyataan dukungan, baik lisan maupun tulisan, sebagai duta, dan memberikan contoh dengan mengikutsertakan bangunan/monumen ikon kota Jakarta dalam kampanye global ini. Selain itu diharapkan pemerintah daerah dan pemerintah pusat juga memberikan himbauan kepada departemen dan institusi terkait, termasuk kalangan bisnis di Jakarta untuk berpartisipasi.
2. Korporasi
Jika sektor komersial (gedung perkantoran dan pertokoan/mal) dapat ikut partisipasi mematikan lampu ketika sudah melewati jam kerja dan mengombinasikan aksi ini dengan kegiatan yang secara teknologi tepat guna dan efisien, maka sektor korporasi dapat mengurangi berton-ton emisi karbon dioksida yang dikeluarkan dari penerangan secara signifikan. Earth Hour bertujuan untuk menunjukkan kepada sektor korporasi betapa mudah dan efisiennya melakukan perubahan dengan mencontoh perusahaan-perusahaan yang telah mencapai penurunan emisi karbon dioksida.
3. Rumah Tangga
Setiap individu diminta secara sukarela memberikan komitmennya untuk mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak sedang digunakan pada tanggal dan jam dimaksud. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam gaya hidup sehari-hari jika dilakukan secara global dapat memberikan hasil besar.

Mari semua kita dukung “Earth Hour 2010″ matikan semua lampu dan alat elektronik pada Sabtu, 27 maret 2010 mulai jam 20.30-21.30 Waktu setempat. Meskipun hanya satu jam, setidaknya kita ikut peduli terhadap bumi ini. Peduli terhadap kelangsungan hidup umat manusia… Mari kita lakukan…

www.EarthHour.org

25.1.10

Abrasi dan Rob di Kawasan Pesisir Kab. Demak Semakin Memprihatinkan

Peningkatan pendapatan oleh masyarakat seringkali tidak memperhitungkan akibat yang ditimbulkan, terutama dampaknya terhadap ekologis, yang secara simultan berdampak terhadap sosial ekonomi secara menyeluruh. Kemajuan yang pesat bidang teknologi memicu masyarakat turut serta memacu meningkatkan pendapatannya dengan berbagai cara dengan melibatkan keseluruhan aspek kehidupan di lingkungannya.

Kondisi saat ini di areal pesisir dan pertambakan telah terkikis (abrasi pantai) dan rob yang lebih dalam ke daratan. Tambak-tambak udang yang terkikis menjadi hilang dan berubah kondisinya menjadi laut dan akibat pemanasan global menyebabkan air masuk lebih dalam. Hilangnya tambak akibat terkikis, menghilangkan pendapatan sebagian petani tambak yang dahulunya termasuk golongan petani ‘kaya” menjadi tidak “kaya”. Kondisi ini akan mengubah perilaku petambak yang tadinya sebagai “juragan” berubah menjadi “bukan juragan”.

Ekstensifikasi ke arah pantai menyebabkan kawasan mengrove sepanjang pinggir pantai sebagai penahan gelombang dan angin serta aliran air laut hilang yang menimbulkan abrasi dan rob (banjir air laut ke arah daratan) yang lebih cepat ke arah daratan. Akibatnya sebagian tambak sepanjang pinggir pantai hilang, salinitas tambak meningkat, tegalan dan sawah menjadi salin serta hilangnya sebagian pemukiman. Produktivitas lahan menurun dan berdampak pada penurunan pendapatan dan bahkan hilangnya pendapatan yang menyebabkan kesejahteraan menurun. Perubahan kesejahteraan yang lebih baik mengakibatkan perubahan perilaku masyarakat ke arah konsumtif, pemikiran yang lebih maju dan merubah perilaku sosial secara menyeluruh. Namun sebaliknya kondisi saat ini, kesejahteraan menurun dan yang terjadi adalah munculnya kemiskinan baru. Daya serap tenaga kerja menurun dan kesejahteraan masyarakat kawasan pesisir yang terimbas ikut menurun serta dimungkinkan merubah perilaku masyarakat kawasan pesisir.

Sebanyak 26 desa di pesisir Kabupaten Demak terendam rob dalam dua dasa warsa terakhir beberapa diantarany seperti Sayung, Karangtengah dan Wedung. Salah satu desa, yaitu Senik, yang dihuni sekitar 1.200 keluarga telah hilang ditelan banjir rob dan warganya terpaksa direlokasi di Desa Gemulak sejak tahun 2007. Bahkan kini banjir rob juga masih menggenangi desa-desa di tiga kecamatan tersebut hingga ketinggian mencapai 1,5 meter serta 449 keluarga menunggu untuk direlokasi.Pada saat sama, 1.710 hektar tambak milik warga pun hilang terabrasi. Akibat bencana alam nasional itu pun disebutkan terjadi penurunan permukaan tanah hingga 12 sentimeter per tahun. Bahkan jika tidak ada penanganan serius terhadap rob dan abrasi yang semakin meluas setiap tahunnya tersebut hingga 50 tahun ke depan, pesisir Demak dipastikan tenggelam. Jalur pantura pun diprediksikan terputus pula. Global warming telah memperparah bencana rob dan abrassi di pesisir Kabupaten Demak. Jika pada era 80-an garis pantai Demak tercatat hanya sekitar 34,1 kilometer, kini setelah terabrasi semakin memanjang hingga 57,58 kilometer.

Upaya penanggulangan pasang laut dan abrasi telah dilakukan baik dengan biaya APBD maupun APBN. Bahkan warga juga telah mendapatkan bantuan bibit mangrove dan pengurukan sekolah dari LSM peduli lingkungan asal Jepang. ”Namun penanganan rob dan abrasi tersebut hanya bersifat parsial. Sehingga luasan area yang terkena rob dan abrasi meluas hingga 200 persen lebih dalam dua puluh tahun. Bahkan 268 KK mesti dipindahkan karena pemukiman mereka tak lagi layak huni.

Untuk menangani bencana rob dan abrasi setidaknya dibutuhkan biaya Rp 77 miliar lebih. Antara lain untuk pembuatan break water atau pemecah gelombang di beberapa titik di sepanjang garis pantai Demak, di samping pula mengintensifkan penanaman mangrove dan melestarikan hutan bakau yang masih tersisa. Hanya saja, dana tersebut tak mungkin mampu ditanggung sepenuhnya oleh APBD Pemkab Demak. Dibutuhkan pula kepedulian pemerintah pusat serta lembaga-lembaga pecinta lingkungan serta masyarakat, agar global warming tak semakin memperparah lingkungan pantai.

21.1.10

PIDATO ANAK 12 TH YANG MEMBUNGKAM PARA PEMIMPIN DUNIA DI PBB (Tentang Lingkungan Hidup)

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki, seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.
Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.
Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.
Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker.
Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa
anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.
Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang.
Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: ” Aku berharap aku
kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang ” .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk
berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini – kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, ” Semuanya akan baik-baik saja , ‘kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.
Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
***********
Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.

Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:

” Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju
berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato.
Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya … tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun “

———— ——— ——— ——— ——— ———
——— ——— ——
*Tolong sebarkan tulisan ini ke semua orang yang anda kenal, bukan untuk mendapatkan nasib baik atau kesialan kalau tidak mengirimkan, tapi mari kita bersama-sama membuka mata semua orang di dunia bahwa bumi sekarang sedang dalam keadaan sekarat dan kitalah manusia yang membuatnya seperti ini yang harus bertindak untuk mencegah kehancuran dunia.
*(Copyright from: Viski Tiarizki)

18.1.10

Diklatsar dan Pelantikan angkatan XI Swapala-Kalijaga

Dengan mengucap Rasa Syukur yang sebesar-besarnya ke hdirat Tuhan YME, akhirnya terlaksana juga Diklatsar dan Pelantikan anggota baru angkatan XI Swapala-Kalijaga SMAN 1 Demak. Semoga para anggota baru yang dilantik tersebut dapat melanjutkan apa yanga telah diperjuangkan para seniornya. Sebuah harapan yang sangat besar di berikan kepada para anggota baru Swapala-Kalijaga angkatan XI. Semoga dapat menjadi anggota yang berkualitas, berdedikasi tinggi dan loyal terhadap organisasi. Serta mampu mengemban semua tugas sebagai seorang pecinta alam, sesuai dengan apa yang telah mereka terima dalam pendidikan dan latihan dasar..
Diklatsar dan pelantikan anggota Swapala-Kalijaga angkatan XI dilaksanakan tanggal 26-29 Desember 2009 yang lalu di Kawasan Gunung Ungaran. Selama empat hari para calon anggota yang berjumlah 22 orang tersebut di gembleng habis-habisan dari segi mental, ketajaman berfikir, ketajaman rasa, dan fisiknya untuk mempersiapkan diri mereka untuk menjadi anggota Swapala-Kalijaga dan menjadi seorang pecinta alam sepenuhnya. Selama 4 hari segala ideologi tentang kepecinta-alaman mereka pelajari dan mereka terapkan dalam diri mereke dengan harapan bahwa ideologi kepecinta-alaman tersebut akan menjadi prinsip hidup dan jalan hidup mereka. Semoga apa yang telah dipelajari benar-benar dapat membuat para anggota baru tersebut menjadi orang yang diharapkan semua pihak…
Selamat atas dilantiknya para anggota baru Swapala-Kalijaga angkatan XI, Selamat datang di keluarga Swapala-Kalijaga, dan selamat datang di dunia Pecinta Alam…

Daftar nama Anggota baru Swapala Kalijaga angkatan XI :
1. Habibul Munna, nama rimba "minthi"
2. Riska Aulia, nama rimba "laler"
3. Kendali Wongso, nama rimba "kemin"
4. M. Ainur Rofiq, nama rimba "kampret"
5. Anna Ma'rifat, nama rimba "coro"
6. Luthfia Hanum, nama rimba "cemani"
7. Agus Wibowo, nama rimba "bajing"
8. Nur Azizah, nama rimba "tawon"
9. Siti Rokhmatun, nama rimba "monggo"
10. Ulil Albab, nama rimba "tumo"
11. Shona Chayy, nama rimba "kenthus"
12. Annis Kurniawati, nama rimba "yuyu"
13. Anriko Fahri, nama rimba "kuthuk"
14. M. Barhan Fazabih, nama rimba "gembluk"
15. Hanum Mardiana, nama rimba "cemeng"
16. Nur Rohman, nama rimba "kuwuk"
17. Taufan Khariri, nama rimba "jaran"
18. Faizal Armadha, nama rimba "kadal"
19. Dwi Bintang, nama rimba "kodok"
20. Nuzulul Qur'anis, nama rimba "jangkrik"
21. Yosua Eren, nama rimba "wedhus"
22. Wahyu Saraswati, nama rimba "singgat"

beberapa hasil dokumentasi :

1. para peserta


2. para dedengkot


3. mendirikan bivak


4. rapelling


5. navigasi darat


6. upacara pelantikan